“Ibu X
sudah meninggal beberapa pekan lalu!”
demikian berita yang saya terima, kemarin saat saya pulang kampung yang
kesekian kali.
“Oh, Innalillaahi wa inna ilaihi raji’un. Sakit
apa, Bu?” tanya saya berbasa-basi.
”Iya. Sakit karena ditinggal pacarnya meninggal kali.”
Jawaban sambil lalu itu tak lagi saya timpali dengan basa-basi, namun
penuh keterkejutan.
Bagaimana mungkin? Setahu saya Ibu X adalah
seorang pegawai baik-baik dengan kedudukan lumayan di sebuah instansi dan sudah
berkeluarga. Bahkan anak-anaknya telah beranjak dewasa. Ketika hal itu saya
konfirmasikan kepada si pembawa berita, jawaban yang ada malah lebih mengejutkan:
orang dewasa dan telah menikah yang pacaran lagi dengan orang lain di kampung
kami bukan cuma satu. Banyak! bahkan diketahui oleh masyarakat umum, tanpa sembunyi-sembunyi.
Duh! Pulang kampong memang selalu menyisakan pelajaran dan kisah berhikmah bagi
saya.
Dulu saya mengira, seorang yang telah menikah
tak akan pernah jatuh cinta lagi, karena dia telah menemukan belahan jiwanya. Sesuatu
yang kadang sering saya ucapkan saat bercanda dengan teman-teman: Saya ingin segera
menikah biar tak usah terlibat dalam permasalahn yang itu-itu saja: jatuh cinta
melulu. Tapi benarkah demikian? Ternyata tidak. Cinta itu, muncul dan tumbuh tak
kenal waktu, tak kenal usia. Cinta adalah sebuah emosi jiwa yang dapat datang
dan pergi kapan saja, pada para lajang maupun yang telah menikah. Cinta adalah
sebentuk rasa yang menjadi hak setiap manusia, remaja, dewasa atau bahkan para
lanjut usia. Cinta bisa menghinggapi siapa saja terhadap siapa saja yang lain,
karena alasan apa saja, sebagaimana cinta juga dapat menghilang dari satu hati terhadap
hati yang lain, termasuk terhadap diri pasangan resmi.
Dan kasus jatuh cinta lagi pada orang lain maupun
tidak mencintai lagi suami/istri, begitu banyak menyebabkan perselingkuhan dan
perceraian di sekeliling kita. Bahkan seakan-akan telah menjadi fenomena. Apa
yang terjadi di kalangan selebritis menjadi contoh terbanyak yang kita lihat
dan dengar hampir tiap hari saat ini. Bahkan mungkin, salah satu dari kita
mungkin mengalaminya. Sungguh betapa memiriskan dan memedihkan. Mestikah seperti itu? Begitu berulang kali
hati saya bertanya. Mestikah setiap cinta yang hadir untuk orang lain di
kemudian hari diikuti dan dipenuhi, sedang seseorang telah terikat dalam sebuah
pernikahan? Sebagaimana pertanyaan lain yang tak pula lekang dari benak saya:
haruskah pula suami istri yang tak lagi saling cinta berakhir dalam perceraian?
Betapa ingin saya membagi kepada semua manusia, sungguh telah pernah ada
teladan indah dari masa
sahabat dan tabi’in tentang kedua hal ini.
Teladan indah yang tercatat dalam sejarah dari
seorang Kakek dan cucunya. Dua Umar yang mulia, Khalifah Ummat Islam di
jamannya. Yang pertama tercatat sebagai penggal kebijakan Umar bin Khaththab,
sang Khalifah perkasa.
Suatu hari, seorang sahabat mengadu, bahwa ia tak lagi mencintai istrinya, dan
ingin menceraikannya. Maka keluarlah kata-kata bijaksana dari Umar: “Jika cinta
tak lagi ada, tak cukupkah tanggung jawab sebagai pengikatnya?” Tanggung jawab. Komitmen.
Kesadaran akan qaulan syadiidan yang pernah terucap. Komitmen dan tanggung
jawab atas mitsaqan ghalidza yang telah diakadkan.
Sedang Umar kedua adalah Umar bin Abdul Aziz,
sang cucu yang disebut sebagai salah satu khalifah ummat islam terbaik pasca khulafa’urrasyidin.
Tersebutlah, Umar bin Abdul Aziz, mencintai seorang gadis yang juga mencintainya.
Semestinya, pada ketika itu, tak ada halangan bagi Umar untuk menikahi si
gadis. Sebelum diangkat menjadi khalifah, Umar tidak menikahi gadis itu karena
istrinya tercinta, tidak mengijinkannya. Ketika telah menjadi khalifah, Sang
Istri dengan lapang berubah pikiran dan malah dengan lapang memberikan usul
agar Umar menikahi gadis itu. Namun tidak, Umar tidak melakukannya. Ia, yang
berkomitmen mengabdikan sisa hidupnya bagi Allah dan ummat yang dipimpinnya,
memilih untuk tidak mengikuti gelora hatinya. Ia malah menikahkan gadis yang
dicintainya dengan pemuda lain, dan tidak pernah mengusiknya sama sekali.
Apakah Umar tidak mencintai gadis itu lagi? Bukan, bukan itu. Tertulis indah
dalam sejarah, dialog antara Umar dengan sang gadis.
“Apakah engkau tak lagi mencintaiku, Umar?”
tanya sang
gadis.
“Aku sangat mencintaimu, bahkan cinta itu kini
jauh
lebih dalam.” Jawab Umar penuh kesungguhan.
Namun hanya berhenti sampai di situ. Tak lebih.
Cinta itu tetap mengalun, tanpa harus menerjang pagar yang digariskan Allah dan
RasulNya pun tak perlu menyakiti
hati seseorang.
Ah! Jatuh cinta
lagi, memang manusiawi. Sebagaimana tak lagi mencintai juga manusiawi. Namun
sesuatu yang manusiawi itu tak berarti lantas mendapatkan pembenaran untuk
diikuti, pun juga tak bijak diharamkan keberadaannya. Teladan dari kedua Umar barangkali
menjadi sebuah jalan untuk tetap dipertengahan: indah, tenang, damai dan
insyaAllah diridhoi.